“Hey cupu! Kemarilah!” katanya dengan nada
tinggi, memanggil seorang pria yang berpenampilan culun untuk menghadapnya.
“Tebal sekali kaca mata mu ini? Apa ini kaca mata kuda? Hah? Hahahaha.” Katanya
meledek sambil mengambil kaca mata pria itu. “Jangan Jemi. Kasihan dia tidak
bisa melihat.” Kata temannya. “Biarkan saja, biar dia rasakan melihat dunia
dengan warna yang nyata. Hahaha.” Kata Jemi sambil menjatuhkan kaca mata
tersebut kelantai. “Jangan! Jangan di jatuhkan, nanti pecah. Aku tidak dapat
melihat tanpa kaca mata itu. Aku mohon.” Kata pria itu dengan nada memohon
sambil mencoba meraih kacamatanya, tapi sayangnya Jemi terlanjur menjatuhkannya
dan terinjak oleh kaki pria itu sendiri. Kacamatanya tidak pecah memang, tapi
retak dan cukup parah. Pria itu mengambil dan memakainya kembali, lalu menatap
wajah Jemi dengan wajah tanpa ekspresi. “Apa kau melihatku seperti itu?!
Menantang ya?!” kata Jemi, tapi kemudian pria itu pergi meninggalkan Jemi tanpa
menjawab pertanyaannya.
Ya, seperti yang kalian tahu. Jemi
memang sombong, suka menindas, dan pemarah. Itulah sifat yang selalu dia
tampilkan. Lain dengan temannya Anne, dia baik tapi tidak tegas dan kurang berpendirian.
Sehingga walaupun dia melarang Jemi melakukan sesuatu, tapi kemudian dia malah
mengikuti perbuatan Jemi. Seperti tadi.
“Kau
tega sekali Jemi! Kenapa kau mengerjainya? Bagaimana kalau kacamatanya hancur dan tidak bisa dipakai?” kata Anne saat
dikelas. “Ah biarkan saja. Siapa suruh dia lewat didepanku dengan wajah seperti
itu. Apa kau tidak lihat tadi, dia sangat culun dan wajar kalau aku
mengerjainya. Dan auranya itu misterius sekali. Kau tahu? Saat aku bertatapan
dengannya, wajahnya itu tak berekspresi dan tidak terbaca. Aku jadi penasaran.”
Kata Jemi kemudian memalingkan wajahnya ke papan tulis. Anne yang mendengarnya
hanya bisa mengangkat sebelah alisnya tanpa berkata lagi.
***
Sesampainya Jemi dirumah dia
langsung menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya. Dia melihat ada mobil
pengangkut barang di seberang rumahnya. “Apakah ada yang baru pindah rumah?”
katanya dalam hati, kemudian melangkah keluar rumah menuju rumah di seberang.
“Hey?!
Tetangga baru ya?” tanyanya ramah kepada seorang pria yang kira-kira masih
seumuran dengannya, sedang mengangkat sebuah kardus. Wajahnya tampan, berbadan
tinggi tegap dengan rambut pendek dan hitam, Jemi mengaguminya dipandangan
pertama. “Memangnya kenapa?! Kau tetangga seberang ya? Rumahmu seram sekali,
mungkin ada hantunya.” Katanya tanpa menatap Jemi, dan membuatnya lebih kesal
adalah rumahnya dikatai seperti rumah hantu. “Hey! Dasar tetangga baru tidak
punya sopan santun. Kau pikir rumah ini tidak seperti rumah hantu hah?!” kata
Jemi setengah berteriak. Pria itu kemudian membalikan badannya menghadap Jemi
dan menaruh kardus itu dibawah. “Apa?! Rumah ini jauh lebih bagus dari pada
rumahmu itu. Kau lihat saja dari sini. Rumahmu seperti kastil tua yang dipenuhi
hantu.” Katanya. “Ah kau ini! Siapa namamu?! Aku Jemima, panggil saja Jemi.”
Kata Jemi mengulurkan tangannya. Tapi pria itu malah tidak menanggapi uluran
tangannya. “Aku Kinan, maaf tidak membalas uluran tangan mu. Tanganku kotor
sekali. Kau bisa lihat kan?!” katanya sambil menunjukan telapak tangannya yang
amat kotor itu. “Baiklah.” Kata Jemi kemudian pergi dari rumah itu dan kembali
kerumahnya, meninggalkan Kinan yang terpaku akan sikap Jemi.
Saat malam tiba Jemi sedang
mempersiapkan buku untuk pelajaran besok, tapi dia dikagetkan dengan suara benda
jatuh. “Apa itu?!” katanya kaget dan melangkah keluar dari kamarnya menuju arah
suara. “Paman? Paman sudah pulang?” katanya sambil melangkah menuju kamar pamannya,
dan kosong. “mungkin tikus.” Katanya kemudian melangkah pergi dari tempat itu.
Suara itu kembali muncul tapi dari atas loteng rumahnya. Jemi berfikir itu
masih tikus. Tapi suara itu semakin jelas, dan bukan suara tikus atau hewan
lainnya. Melainkan suara langkah kaki. Dan beberapa saat kemudian suara itu
hilang.
Jemi kembali melanjutkan aktifitasnya
mengerjakan pekerjaan rumah, saat dia sedang menatap ke jendela kamarnya dia
melihat bayangan hitam yang langsung hilang seketika itu juga. Dia kemudian
mencari keluar jendela dan tak menemukan bayangan itu lagi.
***
“Hey cupu! Kerjakan PR ku! Nanti
akan ku ambil, jangan sampai salah ya.” Kata Jemi meninggalkan buku tugasnya di
atas meja Ollan, anak cupu yang selalu jadi bahan bully Jemi disekolah. Ya
hampir setiap hari Jemi membullynya, bahkan dia juga selalu menyuruh Ollan
untuk mengerjakan tugas-tugasnya, dan membelikan makanan atau minuman. Tapi
Ollan tidak pernah menolak atau pun marah saat Jemi mengerjainya walaupun
kelewatan. Entah kenapa, tatapan Ollan saat itu berbeda. Dia menatap Jemi
seolah ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
“Ada apa dengan Ollan? Kenapa dia melihatku
seperti itu?!” tanya Jemi pada Anne saat dikantin, setelah dia tadi menyuruh
Ollan mengerjakan tugasnya. “Entahlah. Mungkin dia kesal padamu. Kau bayangkan
saja, setiap hari kau selalu menyuruhnya ini dan itu, kalau aku jadi dia sudah
ku makan hidup-hidup kau Jemi.” Kata Anne. “Ah Kau, memangnya kau kanibal?!
Pakai ingin memakanku hidup-hidup segala. Nanti tak ada lagi teman secantik
Aku!” kata Jemi sambil mengibaskan rambut panjangnya. Ya, Jemi memang cantik,
kulitnya kuning langsat, memiliki perawakan india, rambutnya hitam panjang
sepinggang dan memiliki tubuh yang tinggi dan langsing. Begitu pun dengan Anne,
dia cantik, kulitnya putih, memiliki perawakan seperti orang cina, rambutnya
pendek sebahu dan berwarna kecoklatan dan memiliki tubuh yang tinggi namun tak
setinggi Jemi.
Dia memperhatikan Ollan dengan
serius saat Ollan sedang mengerjakan tugasnya. “Sudah selesai belum?! Kau ini
lambat sekali, seperti keong!” kata Jemi membentak. Ollan hanya diam dan
mengambil buku tulis dari kolong mejanya, dan memberikannya pada Jemi tanpa
berbicara sedikitpun. Lalu menatap Jemi dengan tatapan tajam seolah akan
melahap Jemin hidup-hidup. “Kenapa kau melihatku seperti itu?! Kau kesal setiap
hari aku suruh mengerjakan PR ku?! Bilang kalau kau marah!!” kata Jemi
membanting buku di meja Ollan. Sontak semua anak dikelas kaget dan melihat
kearah Jemi dan Ollan. Kemudian mereka berbisik entah mangatakan apa, karena
Jemi tidak mempedulikannnya. “Apa kalian?!
Sudah jangan urusi kami! Dan jangan menguping!” kata Jemi yang disusuli
hilangnya keheningan akibat kejadian tadi. “Aku tidak marah, dan aku tidak
kesal.” Kata Ollan datar, kemudian pergi meinggalkan Jemi yang masih terpaku.
Karena Ollan tidak pernah berbicara apapun pada Jemi setelah kejadian
kacamatanya yang dijatuhkan oleh Jemi.
***
Seminggu berlalu, suara dan bayangan
itu selalu muncul setiap malamnya. Membuat Jemi tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Dan dua hari belakangan Jemi selalu menemukan tulisan-tulisan aneh di kaca-kaca
rumahnya serta menemukan kotak berisi bangkai binatang di depan pintu rumahnya.
Jemi mulai ketakuat dan dia melaporkan hal ini pada pamannya, namun pamannya
malah menganggap Jemi hanya berhalusinasi. Dan pamannya meninggalkan Jemi
sendirian dirumah itu sejak tiga hari kemarin.
Suara itu kembali muncul, dan Jemi
sudah tidak tahan lagi. Dia mencari ketempat suara berasal, keatas loteng
rumahnya dan menemukan bekas bungkus makanan dan minuman, serta bekas jejak
sepatu di lantai loteng. Dia akhirnya tahu, bahwa itu adalah ulah manusia yang
mengerjainya, entah dengan maksud apa. Dan saat ingin kembali kebawah, pundak
Jemi ditepuk dari arah belakang. Dengan reflex Jemi membalikan badannya hendak
berteriak namun terlambat karena tangan orang itu langsung membekap mulut Jemi.
Jemi melawan dengan sekuat tenaga, tapi apa daya dia terlalu lemah untuk
melawan orang ini.
Jemi amat ketakuan, dia tidak bisa
berbuat apa-apa. Karena saat ini dia sendirian dirumahnya. Dan di bekap diatas loteng
rumahnya sendiri dengan keadaan mulut tertutup dan tangan diikat. Jemi hanya
bisa menangis. “Menangislah Jemi! Rasakan penderitaan ku selama ini! Kau fikir
hanya kau yang sempurna didunia ini?! Hah?! Jangan sombong Jemi! Wajahmu memang
canti, tapi kau sombong dan suka menindas orang yang lemah. Tapi kali ini kau
salah sasaran Jemi! Kau salah berhadapan dengan orang!” kata orang itu yang
wajahnya ditutupi topeng hitam. Jemi hanya bisa mengeluarkan suara, tapi tidak
berbicara. “Kau bilang apa Jemi?! Kau takut ya?! Tenang saja aku tidak akan
menyakitimu dengan cara yang mempermalukan seperti yang kau lakukan padaku. Kau
akan langsung berada di neraka setelah ini.” Katanya kemudian meninggalkan Jemi
senidri.
***
Pagi pun tiba, Jemi terbangun dari tidurnya.
Dan menyadari bahwa dia semalaman berada diatas loteng rumahnya dengan tangan
terikat dan mulut tertutup. “Sudah bangun rupanya. Ini makanlah.” Kata orang
itu sambil meberikan sebungkus nasi, dan membuka ikatan tangan serta mulut
Jemi. “Toloooonggggg!!!!!” teriak Jemi saat mulitnya terbuka, dan kemudian diam
karena orang itu mengacungkan sebilah pisau dileher Jemi. “Teriaklah Jemi.
Teriaak!!” katanya dengan keras. “Kau!!! Apa sebenarnya yang kau mau?! Kau mau
harta benda dirumah ini?! Silahkan ambil. Tapi lepaskan aku.” Kata Jemi
kemudian. “Aku tak butuh hartamu Jemi. Aku lebih kaya dari mu! Aku hanya ingin
membalas semua perbuatan mu padaku!” katanya dengan suara setengah berbisik
sambil memainkan pisau itu diwajah Jemi. “siapa kau sebenarnya?! Jangan berbuat
macam-macam!! Atau…” kata Jemi terbata.
“Atau apa?! Melaporkan pada pamanmu? Lapor polisi?! Jangan bodoh Jemi. Tidak
akan ada yang tahu kau disini.” Katanya kemudian pergi. Tapi sebelum pergi dia
tak lupa mengikat tangan Jemi dan menutup mulut Jemi.
Kinan, pria itu sedang berbicara
dengan paman Jemi. Dan pamannya kemudian pergi. Jemi hanya bisa menatap dari
celah celah kayu loteng yang sudah rusak. Dia berusaha membuat suara agar Kinan
tahu keberadaannya disini. Tapi usahanya sia-sia, Kinan tak mendengarnya dan
kemudian pergi dengan motor besarnya.
“Aku
harus bagaiman?! Tidak mungkin aku selamanya disini. Mereka harus tahu kalau
aku disini. Anne, tolong aku. Kinan, tolong aku.” Kata Jemi dalam hatinya,
kemudian menangis.
Malam tiba , dan orang itu datang
lagi. Entah dia melewati jalan alternative apa. Membawa sebungkus makanan lagi, dan
memberikannya pada Jemi. “Makanlah. Aku tidak mau kau mati karena kelaparan.
Karena itu tidak akan membuatku puas. Cepat makan.” Katanya melepaskan ikatan
Jemi dan membuka penutup mulutnya. Jemi menurut, karena dia sudah tidak ada
tenaga lagi.
***
Tiga hari berlalu, Jemi masih
disekap dirumahnya sendiri. Dia terus berusaha supaya orang-orang mengetahui
keberadaannya, tapi sepertinya itu semua sia-sia. Jemi menyadari, bahwa dia
tidak akrab dengan tetangganya. Bahkan dia hanya mengenal Kinan, selama 8 tahun
menempati rumah ini. Padahal Kinan baru dua minggu menjadi tetangganya.
Sikapnya yang sombong tidak memberikan dia pergaulan yang baik.
Anne datang kerumah Jemi, mengetuk
pintu Jemi. Jemi dapat melihatnya dari celah-celah kayu dan mendengar suara
Anne yang memanggil-manggilnya. Dia berusaha menjatuhkan sebuah vas bunga yang
berada didekatnya. Dan berhasil. “Jemi!! Apa kau didalam?! Cepat buka pintunya.”
Kata Anne, tapi Jemi tak bisa menjawab dan hanya bisa memukul-mukulkan kakinya
di dinding yang terbuat dari kayu itu. Jemi yakin Anne mendengarnya, tapi dia
tidak bisa meneruskan rencananya untuk membuat Anne mengetahui keberadaannya
disini. Orang itu datang lagi. “Lancang kau! Aku sudah baik hati untuk tidak
menyakitimu. Tapi rupanya kau tidak sabaran ya?! Ingin cepat-cepat bebas?! Baiklah
aku akan membebaskan mu dengan ini.” Katanya sambil mengeluarkan pisau itu.
Jemi menggelengkan kepalanya. “Apa?! Kau tidak mau?! Makannya jangan membuat
kemarahan ku muncul saat aku sedang ingin bersenang-senang melihatmu tersiksa
disini.”katanya dan kemudian pergi lagi meninggalkan Jemi.
***
Anne berjalan keluar gerbang rumah
Jemi, dan menuju kerumah Kinan. Ya, dia mengetahui Kinan dari cerita Jemi.
Karena diam-diam Jemi mengagumi Kinan. Anne memencet bel rumah Kinan, dan Kinan
langsung keluar rumahnya menemui siapa yang bertamu. “Kau?! Oh, temannya Jemi
ya? Ada apa?” tanyanya ramah, sambil memberikan sebuah senyum. Anne sempat
terpesona dan melupakan niatnya untuk menanyakan keberadaan Jemi. Tapi
untungnya dia langsung tersadar. “Oh ya, boleh aku masuk?” katanya. Dan Kinan
mempersilahkan Anne masuk.
“Baiklah. Katakana ada apa?” kata
Kinan membuka pembicaraan. “Apa kau tau Jemi pergi kemana?” katanya. “Aku tidak
tau, karena setahuku dia kan sekolah. Dan pulang sore hari, dan akhir-akhir ini
aku juga jarang melihatnyankarena aku sibuk kuliah.” Kata Kinan menjelaskan.
“Dia tidak masuk sejak tiga hari yang lalu. Aku khawatir padanya. Karena
kemarin ku dengar dari Jemi, dia mendapat terror dari seseorang.” Kata Anne
dengan wajah khawatir. “Apa?! Terror?! Apa maksudmu orang yang yang selalu
memperhatikan Jemi dari luar rumahnya?! Dan mengirimkan kotak-kotak hadiah itu?!”
tanya Kinan penuh pertanyaan. “Iya, tapi bukan hadiah yang dia dapatkan. Tapi
bangkai hewan-hewan yang dibunuh dengan sadis. Dia juga sering mendapat terror
suara langkah kaki diatas loteng rumahnya, dan juga tulisan-tulisan aneh yang
bertulisaka ‘Aku akan balas dendam’ di setiap kaca rumahnya. Bahkan dikaca
kamar mandinya. Dan aku berfikir itu adalah ulah orang yang tidak suka dengan
Jemi.” Kata Anne menjelaskan cerita yang pernah dia dengar dari Jemi. “Benarkah
seperti itu? Ah! Dia dalam bahaya! Siapa yang tidak suka dengannya?! Kenapa dia
tidak suka dengan Jemi?!” tanya Kinan. “Aku tak tahu pasti. Tapi aku curiga
dengan Ollan.” Kata Anne berusaha menyimpulkan. “Ollan? Siapa dia?” tanya
Kinan. “Dia adalah anak cupu yang selalu
jadi bahan bullyan Jemi. Tapi belakangan ini, semenjak Jemi tidak ada. Dia juga
tidak ada. Aku curiga Kinan.” Jawab Anne.
Setelah panjang lebar mereka bicara,
kemudian Anne berpamitan untuk pulang. Karena hari sudah semakin sore. Namun,
ketika ingin pulang. Mereka berdua melihat ada orang diatas rumah Jemi,
diloteng tepatnya. Tak hanya satu, tapi dua orang. Dan yang satu lagi mereka
yakini itu Jemi. Karena tangannya terikat dan mulutnya tertutup. Mereka bisa
melihat dari kaca jendela loteng Jemi. “Itu Jemi!” seru Anne. “Iya. Tunggu. Aku
akan menelpon polisi.”kata Kinan kemudian menelpon polisi.
Mereka menunggu polisi datang, namun
polisi tak kunjung datang. Dan akhirnya mereka memilih untuk masuk kerumah Jemi
dengan melewati pintu belakang. Mereka langsung menuju loteng rumah Jemi. Dan
menemuka Jemi sedang terduduk lemah. “Jemi!! Kau baik saja kan?!” kata Kinan
kemudian melepaskan ikatan serta membuka penutup mulut Jemi. “Jangan kesini!
Pergi!” kata Jemi. “Ada apa Jemi?! Apa dia menyakitimu? Orang yang selalu
mengawasimu itu?!” tanya Kinan. Jemi menangguk. Dan tak sadar orang itu datang
dan mendekap Anne dari belakang. Kinan dan Jemi tak menyadarinya. Sampai
kemudia orang itu bersuara. “Kau lepaskan dia! Aku bunuh dia.” Katanya dengan
senyum mistis sambil mengarahkan pisau keleher Anne. “Anne!!!” seru Jemi dan
Kinan bersamaan. Denga gerakan cepet Kinan mengambil balok kayu dan berniat
memukul orang itu. Tapi saat baru memukul, orang itu sudah menyayatkan pisau
dileher Anne. Darah segar mengalir dari leher Anne, dan orang itu pingsan karena
pukulan balok dari Kinan.
Polisi datang, dengan ambulance
dibelakangnya, Anne dilarikan kerumah sakit. Begitupun dengan Jemi. Dan orang
itu menghilang saat semua sibuk menangani Anne dan Jemi. Dia tidak ditemukan,
dan jejaknya tidak diketahui oleh polisi. Dan dia masih menjadi incaran polisi.
***
Anne meninggal karena kehabisan
banyak darah, Jemi menyesal. Karena ingin menolongnya sahabatnya itu terluka
dan akhirnya meninggal dunia. “Sudah, jangan kau tangisi kepergian Anne, Jemi.
Aku yakin, dia begitu senang karena bisa meloloskan mu dari psikopat itu. Dan
kau tahu?! Dia masih berkeliaran. Kau harus hati-hati. Aku akan menjagamu
Jemi.” Kata Kinan pada Jemi yang sedang terbaring sambil menangis karena
kepergian Anne. Jemi hanya bisa mengangguk. Dia masih trauma, dan dia butuh
sosok penjaga seperti Kinan.
“Aku datang lagi Jemi!!!” suara itu kembali muncul dari luar kamar rawat Jemi. Dia mencari sumber suara itu, dan menemukan tulisan di kaca kamar rawatnya. ‘Aku Akan Balas Dendam!!!’……