Senin, 09 Maret 2015

“Aku Akan Balas Dendam!!!



“Hey cupu! Kemarilah!” katanya dengan nada tinggi, memanggil seorang pria yang berpenampilan culun untuk menghadapnya. “Tebal sekali kaca mata mu ini? Apa ini kaca mata kuda? Hah? Hahahaha.” Katanya meledek sambil mengambil kaca mata pria itu. “Jangan Jemi. Kasihan dia tidak bisa melihat.” Kata temannya. “Biarkan saja, biar dia rasakan melihat dunia dengan warna yang nyata. Hahaha.” Kata Jemi sambil menjatuhkan kaca mata tersebut kelantai. “Jangan! Jangan di jatuhkan, nanti pecah. Aku tidak dapat melihat tanpa kaca mata itu. Aku mohon.” Kata pria itu dengan nada memohon sambil mencoba meraih kacamatanya, tapi sayangnya Jemi terlanjur menjatuhkannya dan terinjak oleh kaki pria itu sendiri. Kacamatanya tidak pecah memang, tapi retak dan cukup parah. Pria itu mengambil dan memakainya kembali, lalu menatap wajah Jemi dengan wajah tanpa ekspresi. “Apa kau melihatku seperti itu?! Menantang ya?!” kata Jemi, tapi kemudian pria itu pergi meninggalkan Jemi tanpa menjawab pertanyaannya.



            Ya, seperti yang kalian tahu. Jemi memang sombong, suka menindas, dan pemarah. Itulah sifat yang selalu dia tampilkan. Lain dengan temannya Anne, dia baik tapi tidak tegas dan kurang berpendirian. Sehingga walaupun dia melarang Jemi melakukan sesuatu, tapi kemudian dia malah mengikuti perbuatan Jemi. Seperti tadi.



“Kau tega sekali Jemi! Kenapa kau mengerjainya? Bagaimana kalau kacamatanya  hancur dan tidak bisa dipakai?” kata Anne saat dikelas. “Ah biarkan saja. Siapa suruh dia lewat didepanku dengan wajah seperti itu. Apa kau tidak lihat tadi, dia sangat culun dan wajar kalau aku mengerjainya. Dan auranya itu misterius sekali. Kau tahu? Saat aku bertatapan dengannya, wajahnya itu tak berekspresi dan tidak terbaca. Aku jadi penasaran.” Kata Jemi kemudian memalingkan wajahnya ke papan tulis. Anne yang mendengarnya hanya bisa mengangkat sebelah alisnya tanpa berkata lagi.



                                                                        ***



            Sesampainya Jemi dirumah dia langsung menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya. Dia melihat ada mobil pengangkut barang di seberang rumahnya. “Apakah ada yang baru pindah rumah?” katanya dalam hati, kemudian melangkah keluar rumah menuju rumah di seberang.



“Hey?! Tetangga baru ya?” tanyanya ramah kepada seorang pria yang kira-kira masih seumuran dengannya, sedang mengangkat sebuah kardus. Wajahnya tampan, berbadan tinggi tegap dengan rambut pendek dan hitam, Jemi mengaguminya dipandangan pertama. “Memangnya kenapa?! Kau tetangga seberang ya? Rumahmu seram sekali, mungkin ada hantunya.” Katanya tanpa menatap Jemi, dan membuatnya lebih kesal adalah rumahnya dikatai seperti rumah hantu. “Hey! Dasar tetangga baru tidak punya sopan santun. Kau pikir rumah ini tidak seperti rumah hantu hah?!” kata Jemi setengah berteriak. Pria itu kemudian membalikan badannya menghadap Jemi dan menaruh kardus itu dibawah. “Apa?! Rumah ini jauh lebih bagus dari pada rumahmu itu. Kau lihat saja dari sini. Rumahmu seperti kastil tua yang dipenuhi hantu.” Katanya. “Ah kau ini! Siapa namamu?! Aku Jemima, panggil saja Jemi.” Kata Jemi mengulurkan tangannya. Tapi pria itu malah tidak menanggapi uluran tangannya. “Aku Kinan, maaf tidak membalas uluran tangan mu. Tanganku kotor sekali. Kau bisa lihat kan?!” katanya sambil menunjukan telapak tangannya yang amat kotor itu. “Baiklah.” Kata Jemi kemudian pergi dari rumah itu dan kembali kerumahnya, meninggalkan Kinan yang terpaku akan sikap Jemi.



            Saat malam tiba Jemi sedang mempersiapkan buku untuk pelajaran besok, tapi dia dikagetkan dengan suara benda jatuh. “Apa itu?!” katanya kaget dan melangkah keluar dari kamarnya menuju arah suara. “Paman? Paman sudah pulang?” katanya sambil melangkah menuju kamar pamannya, dan kosong. “mungkin tikus.” Katanya kemudian melangkah pergi dari tempat itu. Suara itu kembali muncul tapi dari atas loteng rumahnya. Jemi berfikir itu masih tikus. Tapi suara itu semakin jelas, dan bukan suara tikus atau hewan lainnya. Melainkan suara langkah kaki. Dan beberapa saat kemudian suara itu hilang.



            Jemi kembali melanjutkan aktifitasnya mengerjakan pekerjaan rumah, saat dia sedang menatap ke jendela kamarnya dia melihat bayangan hitam yang langsung hilang seketika itu juga. Dia kemudian mencari keluar jendela dan tak menemukan bayangan itu lagi.



                                                                        ***



            “Hey cupu! Kerjakan PR ku! Nanti akan ku ambil, jangan sampai salah ya.” Kata Jemi meninggalkan buku tugasnya di atas meja Ollan, anak cupu yang selalu jadi bahan bully Jemi disekolah. Ya hampir setiap hari Jemi membullynya, bahkan dia juga selalu menyuruh Ollan untuk mengerjakan tugas-tugasnya, dan membelikan makanan atau minuman. Tapi Ollan tidak pernah menolak atau pun marah saat Jemi mengerjainya walaupun kelewatan. Entah kenapa, tatapan Ollan saat itu berbeda. Dia menatap Jemi seolah ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.



“Ada apa dengan Ollan? Kenapa dia melihatku seperti itu?!” tanya Jemi pada Anne saat dikantin, setelah dia tadi menyuruh Ollan mengerjakan tugasnya. “Entahlah. Mungkin dia kesal padamu. Kau bayangkan saja, setiap hari kau selalu menyuruhnya ini dan itu, kalau aku jadi dia sudah ku makan hidup-hidup kau Jemi.” Kata Anne. “Ah Kau, memangnya kau kanibal?! Pakai ingin memakanku hidup-hidup segala. Nanti tak ada lagi teman secantik Aku!” kata Jemi sambil mengibaskan rambut panjangnya. Ya, Jemi memang cantik, kulitnya kuning langsat, memiliki perawakan india, rambutnya hitam panjang sepinggang dan memiliki tubuh yang tinggi dan langsing. Begitu pun dengan Anne, dia cantik, kulitnya putih, memiliki perawakan seperti orang cina, rambutnya pendek sebahu dan berwarna kecoklatan dan memiliki tubuh yang tinggi namun tak setinggi Jemi.



            Dia memperhatikan Ollan dengan serius saat Ollan sedang mengerjakan tugasnya. “Sudah selesai belum?! Kau ini lambat sekali, seperti keong!” kata Jemi membentak. Ollan hanya diam dan mengambil buku tulis dari kolong mejanya, dan memberikannya pada Jemi tanpa berbicara sedikitpun. Lalu menatap Jemi dengan tatapan tajam seolah akan melahap Jemin hidup-hidup. “Kenapa kau melihatku seperti itu?! Kau kesal setiap hari aku suruh mengerjakan PR ku?! Bilang kalau kau marah!!” kata Jemi membanting buku di meja Ollan. Sontak semua anak dikelas kaget dan melihat kearah Jemi dan Ollan. Kemudian mereka berbisik entah mangatakan apa, karena Jemi tidak mempedulikannnya.  “Apa kalian?! Sudah jangan urusi kami! Dan jangan menguping!” kata Jemi yang disusuli hilangnya keheningan akibat kejadian tadi. “Aku tidak marah, dan aku tidak kesal.” Kata Ollan datar, kemudian pergi meinggalkan Jemi yang masih terpaku. Karena Ollan tidak pernah berbicara apapun pada Jemi setelah kejadian kacamatanya yang dijatuhkan oleh Jemi.



                                                                        ***



            Seminggu berlalu, suara dan bayangan itu selalu muncul setiap malamnya. Membuat Jemi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dan dua hari belakangan Jemi selalu menemukan tulisan-tulisan aneh di kaca-kaca rumahnya serta menemukan kotak berisi bangkai binatang di depan pintu rumahnya. Jemi mulai ketakuat dan dia melaporkan hal ini pada pamannya, namun pamannya malah menganggap Jemi hanya berhalusinasi. Dan pamannya meninggalkan Jemi sendirian dirumah itu sejak tiga hari kemarin.



            Suara itu kembali muncul, dan Jemi sudah tidak tahan lagi. Dia mencari ketempat suara berasal, keatas loteng rumahnya dan menemukan bekas bungkus makanan dan minuman, serta bekas jejak sepatu di lantai loteng. Dia akhirnya tahu, bahwa itu adalah ulah manusia yang mengerjainya, entah dengan maksud apa. Dan saat ingin kembali kebawah, pundak Jemi ditepuk dari arah belakang. Dengan reflex Jemi membalikan badannya hendak berteriak namun terlambat karena tangan orang itu langsung membekap mulut Jemi. Jemi melawan dengan sekuat tenaga, tapi apa daya dia terlalu lemah untuk melawan orang ini.



            Jemi amat ketakuan, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena saat ini dia sendirian dirumahnya. Dan di bekap diatas loteng rumahnya sendiri dengan keadaan mulut tertutup dan tangan diikat. Jemi hanya bisa menangis. “Menangislah Jemi! Rasakan penderitaan ku selama ini! Kau fikir hanya kau yang sempurna didunia ini?! Hah?! Jangan sombong Jemi! Wajahmu memang canti, tapi kau sombong dan suka menindas orang yang lemah. Tapi kali ini kau salah sasaran Jemi! Kau salah berhadapan dengan orang!” kata orang itu yang wajahnya ditutupi topeng hitam. Jemi hanya bisa mengeluarkan suara, tapi tidak berbicara. “Kau bilang apa Jemi?! Kau takut ya?! Tenang saja aku tidak akan menyakitimu dengan cara yang mempermalukan seperti yang kau lakukan padaku. Kau akan langsung berada di neraka setelah ini.” Katanya kemudian meninggalkan Jemi senidri.



                                                                        ***



            Pagi pun tiba, Jemi terbangun dari tidurnya. Dan menyadari bahwa dia semalaman berada diatas loteng rumahnya dengan tangan terikat dan mulut tertutup. “Sudah bangun rupanya. Ini makanlah.” Kata orang itu sambil meberikan sebungkus nasi, dan membuka ikatan tangan serta mulut Jemi. “Toloooonggggg!!!!!” teriak Jemi saat mulitnya terbuka, dan kemudian diam karena orang itu mengacungkan sebilah pisau dileher Jemi. “Teriaklah Jemi. Teriaak!!” katanya dengan keras. “Kau!!! Apa sebenarnya yang kau mau?! Kau mau harta benda dirumah ini?! Silahkan ambil. Tapi lepaskan aku.” Kata Jemi kemudian. “Aku tak butuh hartamu Jemi. Aku lebih kaya dari mu! Aku hanya ingin membalas semua perbuatan mu padaku!” katanya dengan suara setengah berbisik sambil memainkan pisau itu diwajah Jemi. “siapa kau sebenarnya?! Jangan berbuat macam-macam!! Atau…”  kata Jemi terbata. “Atau apa?! Melaporkan pada pamanmu? Lapor polisi?! Jangan bodoh Jemi. Tidak akan ada yang tahu kau disini.” Katanya kemudian pergi. Tapi sebelum pergi dia tak lupa mengikat tangan Jemi dan menutup mulut Jemi.



            Kinan, pria itu sedang berbicara dengan paman Jemi. Dan pamannya kemudian pergi. Jemi hanya bisa menatap dari celah celah kayu loteng yang sudah rusak. Dia berusaha membuat suara agar Kinan tahu keberadaannya disini. Tapi usahanya sia-sia, Kinan tak mendengarnya dan kemudian pergi dengan motor besarnya.



“Aku harus bagaiman?! Tidak mungkin aku selamanya disini. Mereka harus tahu kalau aku disini. Anne, tolong aku. Kinan, tolong aku.” Kata Jemi dalam hatinya, kemudian menangis.



            Malam tiba , dan orang itu datang lagi. Entah dia melewati jalan alternative apa.  Membawa sebungkus makanan lagi, dan memberikannya pada Jemi. “Makanlah. Aku tidak mau kau mati karena kelaparan. Karena itu tidak akan membuatku puas. Cepat makan.” Katanya melepaskan ikatan Jemi dan membuka penutup mulutnya. Jemi menurut, karena dia sudah tidak ada tenaga lagi.



                                                                        ***



            Tiga hari berlalu, Jemi masih disekap dirumahnya sendiri. Dia terus berusaha supaya orang-orang mengetahui keberadaannya, tapi sepertinya itu semua sia-sia. Jemi menyadari, bahwa dia tidak akrab dengan tetangganya. Bahkan dia hanya mengenal Kinan, selama 8 tahun menempati rumah ini. Padahal Kinan baru dua minggu menjadi tetangganya. Sikapnya yang sombong tidak memberikan dia pergaulan yang baik.



            Anne datang kerumah Jemi, mengetuk pintu Jemi. Jemi dapat melihatnya dari celah-celah kayu dan mendengar suara Anne yang memanggil-manggilnya. Dia berusaha menjatuhkan sebuah vas bunga yang berada didekatnya. Dan berhasil. “Jemi!! Apa kau didalam?! Cepat buka pintunya.” Kata Anne, tapi Jemi tak bisa menjawab dan hanya bisa memukul-mukulkan kakinya di dinding yang terbuat dari kayu itu. Jemi yakin Anne mendengarnya, tapi dia tidak bisa meneruskan rencananya untuk membuat Anne mengetahui keberadaannya disini. Orang itu datang lagi. “Lancang kau! Aku sudah baik hati untuk tidak menyakitimu. Tapi rupanya kau tidak sabaran ya?! Ingin cepat-cepat bebas?! Baiklah aku akan membebaskan mu dengan ini.” Katanya sambil mengeluarkan pisau itu. Jemi menggelengkan kepalanya. “Apa?! Kau tidak mau?! Makannya jangan membuat kemarahan ku muncul saat aku sedang ingin bersenang-senang melihatmu tersiksa disini.”katanya dan kemudian pergi lagi meninggalkan Jemi.



                                                                        ***



            Anne berjalan keluar gerbang rumah Jemi, dan menuju kerumah Kinan. Ya, dia mengetahui Kinan dari cerita Jemi. Karena diam-diam Jemi mengagumi Kinan. Anne memencet bel rumah Kinan, dan Kinan langsung keluar rumahnya menemui siapa yang bertamu. “Kau?! Oh, temannya Jemi ya? Ada apa?” tanyanya ramah, sambil memberikan sebuah senyum. Anne sempat terpesona dan melupakan niatnya untuk menanyakan keberadaan Jemi. Tapi untungnya dia langsung tersadar. “Oh ya, boleh aku masuk?” katanya. Dan Kinan mempersilahkan Anne masuk.



            “Baiklah. Katakana ada apa?” kata Kinan membuka pembicaraan. “Apa kau tau Jemi pergi kemana?” katanya. “Aku tidak tau, karena setahuku dia kan sekolah. Dan pulang sore hari, dan akhir-akhir ini aku juga jarang melihatnyankarena aku sibuk kuliah.” Kata Kinan menjelaskan. “Dia tidak masuk sejak tiga hari yang lalu. Aku khawatir padanya. Karena kemarin ku dengar dari Jemi, dia mendapat terror dari seseorang.” Kata Anne dengan wajah khawatir. “Apa?! Terror?! Apa maksudmu orang yang yang selalu memperhatikan Jemi dari luar rumahnya?! Dan mengirimkan kotak-kotak hadiah itu?!” tanya Kinan penuh pertanyaan. “Iya, tapi bukan hadiah yang dia dapatkan. Tapi bangkai hewan-hewan yang dibunuh dengan sadis. Dia juga sering mendapat terror suara langkah kaki diatas loteng rumahnya, dan juga tulisan-tulisan aneh yang bertulisaka ‘Aku akan balas dendam’ di setiap kaca rumahnya. Bahkan dikaca kamar mandinya. Dan aku berfikir itu adalah ulah orang yang tidak suka dengan Jemi.” Kata Anne menjelaskan cerita yang pernah dia dengar dari Jemi. “Benarkah seperti itu? Ah! Dia dalam bahaya! Siapa yang tidak suka dengannya?! Kenapa dia tidak suka dengan Jemi?!” tanya Kinan. “Aku tak tahu pasti. Tapi aku curiga dengan Ollan.” Kata Anne berusaha menyimpulkan. “Ollan? Siapa dia?” tanya Kinan.  “Dia adalah anak cupu yang selalu jadi bahan bullyan Jemi. Tapi belakangan ini, semenjak Jemi tidak ada. Dia juga tidak ada. Aku curiga Kinan.” Jawab Anne.



            Setelah panjang lebar mereka bicara, kemudian Anne berpamitan untuk pulang. Karena hari sudah semakin sore. Namun, ketika ingin pulang. Mereka berdua melihat ada orang diatas rumah Jemi, diloteng tepatnya. Tak hanya satu, tapi dua orang. Dan yang satu lagi mereka yakini itu Jemi. Karena tangannya terikat dan mulutnya tertutup. Mereka bisa melihat dari kaca jendela loteng Jemi. “Itu Jemi!” seru Anne. “Iya. Tunggu. Aku akan menelpon polisi.”kata Kinan kemudian menelpon polisi.



            Mereka menunggu polisi datang, namun polisi tak kunjung datang. Dan akhirnya mereka memilih untuk masuk kerumah Jemi dengan melewati pintu belakang. Mereka langsung menuju loteng rumah Jemi. Dan menemuka Jemi sedang terduduk lemah. “Jemi!! Kau baik saja kan?!” kata Kinan kemudian melepaskan ikatan serta membuka penutup mulut Jemi. “Jangan kesini! Pergi!” kata Jemi. “Ada apa Jemi?! Apa dia menyakitimu? Orang yang selalu mengawasimu itu?!” tanya Kinan. Jemi menangguk. Dan tak sadar orang itu datang dan mendekap Anne dari belakang. Kinan dan Jemi tak menyadarinya. Sampai kemudia orang itu bersuara. “Kau lepaskan dia! Aku bunuh dia.” Katanya dengan senyum mistis sambil mengarahkan pisau keleher Anne. “Anne!!!” seru Jemi dan Kinan bersamaan. Denga gerakan cepet Kinan mengambil balok kayu dan berniat memukul orang itu. Tapi saat baru memukul, orang itu sudah menyayatkan pisau dileher Anne. Darah segar mengalir dari leher Anne, dan orang itu pingsan karena pukulan balok dari Kinan.



            Polisi datang, dengan ambulance dibelakangnya, Anne dilarikan kerumah sakit. Begitupun dengan Jemi. Dan orang itu menghilang saat semua sibuk menangani Anne dan Jemi. Dia tidak ditemukan, dan jejaknya tidak diketahui oleh polisi. Dan dia masih menjadi incaran polisi.



                                                                        ***



            Anne meninggal karena kehabisan banyak darah, Jemi menyesal. Karena ingin menolongnya sahabatnya itu terluka dan akhirnya meninggal dunia. “Sudah, jangan kau tangisi kepergian Anne, Jemi. Aku yakin, dia begitu senang karena bisa meloloskan mu dari psikopat itu. Dan kau tahu?! Dia masih berkeliaran. Kau harus hati-hati. Aku akan menjagamu Jemi.” Kata Kinan pada Jemi yang sedang terbaring sambil menangis karena kepergian Anne. Jemi hanya bisa mengangguk. Dia masih trauma, dan dia butuh sosok penjaga seperti Kinan.



            “Aku datang lagi Jemi!!!” suara itu kembali muncul dari luar kamar rawat Jemi. Dia mencari sumber suara itu, dan menemukan tulisan di kaca kamar rawatnya. ‘Aku Akan Balas Dendam!!!’……

Kamis, 19 Februari 2015

Sang Pengagum Rahasia

Aku menyukaimu, lebih dari sekedar teman biasa.
namun saat aku tahu kau menyukai yang lain.
sakit rasanya, hanya saja aku tak bisa berontak.
aku bukan orang yang penting dalam hidup mu.
aku hanya sebatas teman.
dan mengagumi mu diam diam itu menyakitkan.
ingin rasanya aku ungkapkan. namun sulit. karna aku memiliki pria yang masih sangat aku cinta.
aku sadar, diriku bukan orang yang pantas berada disampingmu.
aku tak cantik, aku tak kaya, aku tak pintar atau bahkan cerdas.
aku hanya orang biasa.
orang biasa yang mengagumimu dengan luar biasa.
aku akan coba menghapus rasa ini, bagaimana pun caranya.
demi kebaikan kita bersama:'
selamat tinggal.